Jumat, 03 Mei 2024

thumbnail

Penerapan Design Thinking dalam Proyek Sistem Informasi di Era Globalisasi

 

Penerapan Design Thinking dalam Proyek Sistem Informasi di Era Globalisasi


Di era globalisasi ini, Sistem Informasi menjadi salah satu bidang yang paling terpengaruh oleh perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pengguna. Untuk menghasilkan solusi yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan pengguna, pendekatan Design Thinking menjadi sangat penting dalam pengembangan proyek Sistem Informasi.

Design Thinking adalah sebuah pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah kompleks dengan fokus pada pengguna akhir. Pendekatan ini menggabungkan pemahaman mendalam tentang pengguna, penciptaan dan eksperimen dengan berbagai ide, serta pengujian solusi untuk menemukan solusi yang inovatif dan efektif. Design Thinking menempatkan pengguna sebagai pusat dari proses desain, dengan fokus pada memahami kebutuhan, keinginan, dan tantangan yang dihadapi oleh pengguna.

Sebagai mahasiswa Sistem Informasi di Universitas Internasional Batam, kami telah menerapkan Design Thinking dalam berbagai proyek. Salah satu contohnya adalah ketika kami mengembangkan sistem manajemen inventaris untuk perusahaan e-commerce yang sedang berkembang. Adapun lima poin penerapan design thinking guna memecahkan masalah yang dikerjakan ialah sebagai berikut:

1.      Empati: Dalam tahap ini, kami melakukan wawancara dengan pemilik perusahaan dan pengguna potensial untuk memahami tantangan yang mereka hadapi dalam manajemen inventaris. Kami juga melakukan observasi langsung untuk memahami proses yang sedang berlangsung.

2.      Definisi: Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, kami mendefinisikan permasalahan dengan jelas. Kami menemukan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh perusahaan adalah kesulitan dalam melacak inventaris mereka secara efisien.

3.      Ide: Setelah mendefinisikan masalah, kami mengumpulkan sebanyak mungkin ide untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kami mengadakan sesi brainstorming dan menghasilkan berbagai ide, mulai dari penggunaan teknologi RFID hingga pengembangan aplikasi mobile untuk melacak inventaris.

4.      Prototipe: Kami memilih ide yang paling menjanjikan dan membuat prototipe solusi berupa aplikasi mobile yang memanfaatkan teknologi QR code untuk melacak inventaris. Kami kemudian melakukan pengujian internal untuk memastikan bahwa aplikasi ini berfungsi dengan baik.

5.      Pengujian: Terakhir, kami menguji prototipe dengan pengguna akhir, yaitu staf perusahaan e-commerce, untuk mendapatkan umpan balik. Dengan menggunakan umpan balik ini, kami melakukan perbaikan dan pengembangan lebih lanjut pada aplikasi kami.


Eko Mufariadi Ilham-1831039, Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Internasional Batam 

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments